Puisi "Kesendirian (Mengapa Aku Menulis)
Aku terbiasa dalam kesendirian
Kesendirian yang berirama sepanjang waktu
Aku terbiasa dalam kegelapan
Kegelapan yang menyentuh sampai dasar hatiku
Ketika ku buka mata dipagi hari
Ketika ku gapai angin yang menusuk kalbu
Ketika ku berlari mencari arti
Tetap tiada yang menanti
Tiada yang peduli
Dan tiada yang pahami
Benar aku menyerah
Mencoba mengabaikan retaknya hati ini
Benar aku berlari
Menghilangkan ingatan kelam akan penolakan
Benar aku menangis
Berharap ada tawa sesudahnya
Tapi sungguh aku tak mampu lagi
Lidahku kelu
Harapku punah
Aku menyerah
Biarlah ku sudah lelah
Menanti perubahan dengan peluh
Asa ku pun telah penuh
Jika ini saat terakhirku
Hanya pena yang setia disisiku
Kesendirian yang berirama sepanjang waktu
Aku terbiasa dalam kegelapan
Kegelapan yang menyentuh sampai dasar hatiku
Ketika ku buka mata dipagi hari
Ketika ku gapai angin yang menusuk kalbu
Ketika ku berlari mencari arti
Tetap tiada yang menanti
Tiada yang peduli
Dan tiada yang pahami
Benar aku menyerah
Mencoba mengabaikan retaknya hati ini
Benar aku berlari
Menghilangkan ingatan kelam akan penolakan
Benar aku menangis
Berharap ada tawa sesudahnya
Tapi sungguh aku tak mampu lagi
Lidahku kelu
Harapku punah
Aku menyerah
Biarlah ku sudah lelah
Menanti perubahan dengan peluh
Asa ku pun telah penuh
Jika ini saat terakhirku
Hanya pena yang setia disisiku
Komentar
Posting Komentar